Tampilkan postingan dengan label Hardware. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hardware. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Solid States Drive




SSD (Solid State Drive) Kenapa dinamakan solid state karena di dalam harddisk ini tidak ada benda yang bergerak.Itulah perbedaan utama harddisk ini dengan harddisk konvensional biasa. Mungkin agan pernah dengar atau baca, Mau harddisk berapa rpm ? rpm itu rotation per minute (kecepatan putar per menit). Kalau harddisk konvensional bekerja dengan memutar piringan magnet, sambil berputar ada lengan berbentuk seperti jarum. Diujung lengan tersebut terdapat sebuah alat untuk membaca data yang tersimpan di piringan. Lengan ini sendiri hanya terangkat beberapa mili dari si piringan tersebut. Lengan bergerak dari bagian dalam ke bagian luar sesuai keperluan. Sedangkan SSD menggunakan chip yang tersusun sedemikian rupa disolder ke PCB (Printed Circuit Board - Papan elektronik) sehingga dapat dengan efisien dibaca.

SSD ini sendiri terdiri dari 3 kelas (setidaknya itu yang pernah saya baca). Yang terbaik adalah SLC (Single Level Cell), MLC (Multi Level Cell) dan TLC (Tri-Level Cell)/MLC rangkap tiga. Yang digunakan untuk harddisk adalah SLC dan MLC, sedangkan TLC ini sendiri sudah dipakai sebagai USB Thumbdrive. Lalu apa yang membedakan ketiga kelas ini ? Yang pertama adalah kecepatan membaca. SLC - Single Level Cell, berarti hanya memiliki satu tumpuk cell saja sehingga hanya ada 1 bit data saja untuk satu cell sedangkan untuk MLC ada 2 bit data yang bertumpuk sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca, dan untuk TLC data yang ada adalah rangkap tiga alias ada 3 bit data dalam 1 cell. Kedua, karena SLC hanya mempunya 1 bit data, kemampuan menyimpan data nya juga lebih baik sehingga pemakaian drive juga dapat lebih lama. Tentu saja yang harga harddisk SLC akan lebih mahal dari harga drive yang menggunakan MLC dan pada akhirnya MLC yang menjadi mainstream atau lebih banyak dipakai.



SSD ini sendiri bekerja dengan menyolderkan memori seperti memori DDR (Double Data Rate) RAM (Random Access Memory) yang lazim digunakan sebagai memori utama komputer. Hanya saja, memori DDR tidak bisa menyimpan data, dalam artian, ketika listrik tidak lagi mengalir ke PCB maka data akan hilang. Sedangkan untuk SSD tidak demikian, maka SSD disebut juga non-volatile memory atau memori yang dapat me-retain (menyimpan) data dalam chip. SSD sekarang rata-rata menggunakan chip 8GB. Jadi untuk setiap drive 128GB, sebuah drive memakai 16 chip, sebuah chip kontroler (untuk mengatur traffic data) dan sebuah DDR (bisa DDR2 atau DDR3) rata-rata memakai 512MB - 1GB DDR2/DDR3 untuk cache. Untuk colokan keluar ke Motherboardnya sendiri sama yaitu menggunakan SATA, walaupun nanti ada varian dari vendor yang menggunakan PCIe 

SSD mulai dikenalkan pada tahun 2009 dengan harga yang relatif mahal $7/GB sedangkan harddisk biasa hanya $0.5/GB. Dengan harga yang sangat mahal inilah sekitar tahun 2010 para vendor memperkenalkan alternatif lainnya yaitu Hybrid Drive. Vendor menyadari kecepatan SSD tetapi dengan harga yang belum terjangkau masih banyak yang belum berani memakai SSD. Untuk itulah Hybrid Drive diciptakan. Apa yang dimaksud dengan hybrid drive ? Hybrid Drive ini sama seperti HDD konvensional biasa yang berputar di kecepatan 5400/7200 rpm hanya saja pada drive ini disolderkan juga non-volatile memory layaknya SSD. Biasa yang disolderkan hanya di kisaran 8GB-16GB. Dengan hanya menggunakan 2 chip maka harga dapat ditekan sedangkan kecepatan meningkat. Hybrid Drive ini sendiri bekerja data yang sering diakses atau terpakai akan otomatis dipindahkan ke chip. Sehingga mempercepat proses membaca/menulis



Lalu apa bedanya SSD dengan Harddisk biasa ? Tentu saja lebih mahal karena memang umur SSD yang lebih muda dari harddisk biasa. Kelebihan SSD dibandingkan harddisk konvensional yang paling jelas ada kecepatan. SSD tidak mempunya benda bergerak sama sekali di dalamnya. SSD mengandalkan chip yang disolder ke PCB sehingga langsung menyentuh jalur elektronik yang mengakibatkan peningkatan signifikan dalam proses membaca/menulis. Bandingkan dengan harddisk konvensional yang mengandalkan lengan untuk mencari letak data yang akan dibaca/ditulis. Selain kecepatan dalam membaca, karena tidak ada yang bergerak SSD mengonsumsi lebih sedikit listrik. Ketika tidak dipakai atau keadaan idle SSD hanya mengonsumsi kurang dari 0.01 watt sedangkan ketika kerja berat hanya memakai 0.5 watt, bandingkan dengan harddisk konvensional yang menggunakan daya 1.5-3 watt (sedang idle-bekerja) karena harus mengayunkan lengan. Mungkin angka itu tidak signifikan jika kita berpikir, lampu saja menggunakan 20 watt, tetapi ini sangat berpengaruh jika SSD ini dipakai di laptop yang menggunakan baterai yang sangat terbatas. Bandingkan berapa kali lipat daya yang digunakan harddisk konvensional dibandingkan SSD. Selain kecepatan dan konsumsi listrik, karena tidak ada bagian yang bergerak maka SSD tidak menimbulkan bunyi. Ketiga keuntungan ini saja sudah sangat berpengaruh. Selain itu, karena menggunakan chip yang kecil dan dapat ditumpuk secara berdekatan maka tidak diperlukan space yang besar. Standard SSD ada drive 2.5" sedangkan untuk harddisk konvensional untuk PC masih menggunakan standard 3.5".

SSD 2.5" dengan casing 3.5" supaya pas di PC

Selain keuntungan, SSD juga punya kelemahan. Kelemahan utama pada awal-awal diperkenalkannya teknologi ini adalah ketahanan pemakaian SSD. Waktu baru diperkenalkan SSD hanya tahan untuk 10,000 write/read cycle artinya ketika program (program apa saja) menulis/membaca 10 ribu kali maka SSD ini sudah tidak bisa dipakai alias cell nya hangus (kira-kira jangka waktunya hanya 2 tahun), tapi dengan meningkatnya kemampuan SSD maka sekarang dapat dipakai hingga 5 tahun bahkan bisa lebih. Menurut saya ini sudah cukup lama mengingat pergantian teknologi yang sangat cepat sekali sehingga dalam waktu 5 tahun ke depan harga SSD pasti sudah jauh lebih murah dari sekarang. Kelemahan ini diperbaiki vendor dengan teknologi seperti TRIM dan perbaikan manufaktur chip SSD itu sendiri sehingga meningkatan write/read cycle dari tiap cell itu sendiri. Kelemahan lainnya yaitu SSD menggunakan space dari yang tersedia untuk cache tambahan. Jangan heran ketika anda membeli 128GB SSD maka formatted spacenya kira-kira hanya 112 GB. Bukan toko yang menjual menipu Anda sedangkan memang itulah adanya. diperlukan kira-kira 8-10% space sebagai cache tambahan dan untuk jaga-jaga kalau cell nya mendadak mati. Masih masalah space ini sendiri, ketika free space drive mengecil karena diisi file, maka secara otomatis drive nya sendiri mulai melambat (walaupun tidak signifikan dan masih lebih cepat dari harddisk konvensional sekalipun)

Ada keuntungan, ada kelemahan. Walaupun ada kelemahan sekalipun, menurut TS, SSD yang ada sekarang sudah layak digunakan sebagai harddisk sehari-hari. Kapasitas SSD ini sendiri ada beberapa macam. Mulai dari 64GB,128GB,256GB, bahkan sudah ada yang sampai 512GB. Selain harddisk 2.5" yang memakai colokan SATA ini, ada varian lain yang dikeluarkan vendor yaitu SSD yang menggunakan PCIe. Salah satu vendornya yaitu Intel. SSD PCIe (PCI-Express) ini sendiri ditujukan lebih ke pasar server/enterprise ketimbang pasar pemakai biasa. Harganyapun cukup mahal, mulai dari $2000 ke atas



TS sendiri menulis artikel ini karena sudah merasakan sendiri manfaat dari SSD dan harga SSD yang semakin terjangkau. Untuk 128GB SSD sekarang harganya di kisaran Rp.1,3-1.5 juta (tahun lalu masih di kisaran 2-3 juta). TS merasa Harddisk 7200rpm bahkan 10,000 rpm sekalipun merupakan teknologi yang sudah tergolong tidak dapat mengikuti perkembangan transaksi data yang sudah begitu cepat. Walaupun harddisk konvensional tersebut masih bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari. Perbedaan yang paling mencolok yaitu ketika browsing menggunakan firefox membuka banyak tab yang sudah disimpan sekaligus. Selain itu dampak yang paling terasa, ketika loading game atau Photoshop, terasa sekali beda nya. Multi-taskingnya juga sangat bagus. TS coba sendiri ketika bermain Starcraft 2 dan di alt-tab ke desktop, tidak ada itu namanya screen scroll, langsung keluar secara normal. Bahkan ketika menginstall software + game, tidak terasa lag sama sekali. Dari situlah TS ingin memperkenalkan SSD ini. Secara angka kecepatannya dapat dilihat di bawah ini. TS pakai Corsair Force GT 120GB, Bro silent_wind pakai OCZ Vertex 4 128GB, dan sebagai perbandingan dipakai Hitachi 1TB 7200rpm (harddisk konvensional). Lihat saja perbedaan angkanya yang berkali-kali lipat. Tertarik ? 






Solid States Drive


Keunggulan Solid States Drive :
·         Mempercepat booting - booting dengan SSD bisa lebih cepat hingga cuma memakan 30-75 persen waktu booting dengan hardisk
·         Pencarian file lebih cepat - pencarian file di komputer akan lebih cepat dengan SSD meskipun tanpa indexing
·         Transfer file lebih cepat - copy file dengan SSD cuma membutuhkan waktu 50 persen dari hard disk
·         Memulai aplikasi lebih cepat - membuka file dengan SSDcuma membutuhkan waktu 10-50 persen dari hard disk
·         Memproses file dan data lebih cepat - proses file dan data dengan SSD cuma membutuhkan waktu 50 persen dari hard disk
·         Maintenance lebih cepat - maintenance dengan SSD cuma membutuhkan waktu 10-50 persen dari hard disk(maintenance misal,scanning virus,clean up registry)
·         Hemat listrik(batere lebih lama) - SSD hanya membutuhkan 10 persen daya dari hard disk
·         Multitasking bagus - dengan SSD multitasking tidak membuat komputer anda lag
·         Edit video lebih cepat - dengan SSD edit video hanya membutuhkan waktu 50 persen dari hard disk
·         Bisa dibawa2 dengan aman - SSD tidak menggunakan media cakram yang mudah tergores,jadi tahan goncangan
·         Dingin - SSD dingin karena tidak ada mekanik yang bekerja
·         Ringan - Bobot SSD hanya 50 persen dari bobot hard disk yang berukuran sama
·         Tidak perlu defragmenting/menata file - dengan SSD anda tidak perlu degframenting
·         Memotong kerja CPU anda - dengan SSD file terload lebih cepat sehingga processor tidak menunggu lama dan membuat bottleneck sehingga CPU lebih dingin,lebih hemat daya
·         Respon lebih cepat - SSD tidak menggunakan mekanik jadi respon lebih cepat daripada Hard disk

Prinsip Kerja Printer Laser Monochrome


Printer laser bekerja berdasarkan prinsip elektrostatis, mulai dari pembentukan gambar sampai dengan pemindahan gambar ke media cetak. Seluruh komponen dalam printer laser dipasok daya dengan voltase tinggi dari unit HVPS (High Voltage Power Supply) untuk menghasilkan medan elektrostatis yang berfungsi dalam pembentukan dan pemindahan serbuk toner dari satu komponen ke komponen lain. Dia akhir proses, serbuk toner dan media cetak perlu dipanaskan secara simultan agar keduanya dapat meyatu secara permanen.Dalam makalah ini akan dibahas prinsip kerja printer laser berbasis Canon yang sering dipakai pada printer laser merk HP dan Canon sendiri. Ciri khusus dari mesin berbasis Canon adalah sebagai berikut :

-Menggunakan toner yang bersifat magnetis, mengandung serbuk besi-Menggunakan Magnetic Roller dan PCR-Usia pakai komponen cartridge lebih pendek-Sampah yang terbentuk banyak, efisiensi penggunaan toner rendah-Cartridge-nya menggunakan sealSedangkan tahapan proses yang terjadi dalam printer laser adalah sebagai berikut7 langkah proses pembentukan gambar :

1. ChargingProses dimulai dengan pemberian muatan ke OPC Drum oleh PCR (Primary Charging Roller). Aliran listrik yang konstan dari PCR menghasilkan “selimut” mutan negatif yang merata diatas OPC Drum yang berputar.

2. ExposureSinar laser masuk melalui celah pada cartridge dan difokuskan pada permukaan OPC Drum yang telah diberi muatan negatif secara merata. Seiring dengan berputarnya OPC Drum, sinar laser akan memindai permukaan OPC Drum, memancarkan cahaya dan memberikan muatan positif sesuai dengan image yang akan dicetak. Tapi kita belum dapat melihat image-nya.

3. DevelopmentAda suatu celah kecil antara Doctor Blade (Leveling Blade) dan magnetic Developer Roller (Magnetic Roller). Karena toner bersifat magnetis maka dia akan menempel secara menggumpal dibelakang Doctor Blade, dan berusaha melewati celah kecil tadi. Gesekan yang terjadi antara partikel toner dengan karet Doctor Blade menghasilkan muatan negatif pada tiap partikel toner. Tahap ini disebut “triboelectric charge”.Karena serbuk toner dan Magnetic Roller bermuatan negatif maka toner akan tertarik ke arah OPC Drum pada area yang bermuatan positif, sedangkan bagian OPC Drum yang bermuatan negatif akan menolak toner. Sekarang pada permukaan OPC Drum sudah terbentuk gambar yang dapat dilihat mata.

4. TransferringTransfer Roller yang bermuatan positif terpasang didalam printer dan tidak di dalam cartridge, kertas dibawa melewati jalur diantara OPC Drum dan roller ini. Gambar pada OPC Drum yang terdiri dari toner bergerak ke bawah melewati kertas seiring dengan perputaran OPC Drum. Muatan positif dari Transfer Roller menarik toner yang bermuatan negatif dari permukaan OPC Drum ke permukaan kertas.

5. FusingKertas yang sudah terbentuk gambar dari toner diatasnya, dibawa melewati bagian pemanas yang terdiri dari Upper Fuser Roller dan Lower Pressure Roller. Panas yang diberikan oleh Fuser Roller melelehkan toner keatas kertas bersamaan dengan itu Pressure Roller memberikan tekanan pada kertas. Sehingga toner dapat melekat pada serat kertas secara permanen.

6. CleaningSeiring dengan berlanjutnya putaran OPC Drum maka akan melewati Wiper Blade yang akan membersihkan sisa toner dan sisa serat kertas dari permukaan OPC Drum. Selanjutnya bahan-bahan tersebut akan masuk ke dalam Waste Hopper (Waste Bin) dan Recovery Blade akan menahan sampah tersebut keluar dari Waste Hopper.

7. ErasureTahap terakhir adalah PCR “menghapus” sisa muatan positif pada permukaan OPC Drum dengan cara memberikan muatan negatif secara merata diatas permukaan OPC Drum.Tahap ini akan menghilangkan gambar maya dari permukaan OPC Drum hingga siap kembali untuk “ditembak” oleh sinar laser.



Definisi dan Fungsi

1. Agitator BarLogam tipis dan panjang yang terus berputar di dalam Toner Hopper, mendorong toner keluar ke bagian Development Zone.

2. Development ZoneDaerah pada cartridge dimana toner dipindahkan dari Toner Hopper ke gambar maya pada OPC Drum dengan bantuan Doctor Blade dan Magnetic Roller.

3. Doctor BladeKomponen yang berfungsi mengatur jumlah toner yang menempel pada Magnetic Roller. Juga sering disebut dengan Metering Blade atau Leveling Blade. Terbuat dari dudukan logam yang sangat presisi dan bilah karet yang fleksible. Komponen ini membantu memberi muatan negatif pada partikel toner.

4. Drum ShutterKetikan cartridge tidak terpasang pada printer maka komponen ini akan berada pada posisi tertutup melindungi OPC Drum dari goresan dan cahaya.

5. LaserTembakan cahaya yang tertata rapi yang “menulis” diatas permukaan OPC Drum, satu garis pada saat yang bersamaan.

6. Lower Pressure RollerKomponen pada printer yang meberikan tekanan pada kertas ketika melewati unit pemanas, membantu toner melekat semparna pada kertas.

7. Magnetic Developer Roller (Magnetic Roller)Komponen yang terbuat dari selongsong aluminium yang berputar pada sebuah magnet baja yang diam. Berfungsi menarik toner dan bersama dengan Doctor Blade memberi muatan negatif pada partikel toner. Disebut juga Developer Roller.

8. OPC DrumKomponen yang peka terhadap cahaya, yang membawa gambar maya dari sinar laser, kemuadian menarik toner sesuai dengan gambar maya tadi dan kemudian menempelkannya pada kertas.

9. Paper PathArah atau jalur pergerakan kertas di dalam printer.

10. Primary Charging Roller (PCR)Berfungsi memberikan muatan negatif kepada OPC Drum, dan menghilangkan muatan positif yang terdapat padanya akibat tembakan sinar laser.

11. Recovery BladeBerfungsi menahan agar material di dalam Waste Bin keluar dan mengotori kertas. Disebut juga “Catcher Blade” or “Scavenger Blade”.

12. SealKomponen pelindung untuk menjaga toner tidak tumpah keluar selama proses pengiriman. Teletak pada bagian Toner Hopper dan menutup celah keluarnya toner. Dan harus dilepas oleh pengguna sebelum dimasukkan ke dalam printer.

13. TonerTerbuat dari Oksida Besi, Silika, pewarna dll. Oksida Besi berfungsi sebagai ‘carrier’. Toner ini adalah bahan yang dicetak fan keluar sebagai gambar.

14. Toner HopperAdalah tempat di dalam cartridge sebagai wadah toner yang belum dipakai.

15. Toner Low Sensor BarTerbuat dari logam batangan yang berfunsi sebagai sensor untuk mendeteksi volume toner di dalam Hopper. Jika sudah mencapai batas tertentu maka printer akan menginformasikan “Low Toner”. Komponen ini hanya dipakai pada cartridge printer seri lama, untuk seri yang baru semua sudah memakai chip.

16. Transfer Roller.Komponen printer, berfungsi membatu toner agar dapat melekat pada kertas.

17. Upper Fuser RollerKomponen pada printer yang berfugsi memaskan toner sehingga menempel permanen pada kertas.

18. Waste BinSuatu tempat di dalam cartridge dimana toner sisa, serat kertas dan sampah cetakan lainnya disimpan.

19. Wiper Blade

Berfungsi membersihkan bahan sisa yang melekat pada OPC Drum. Disebut juga Cleaning Blade.

Selasa, 25 September 2012

RAM

Definisi RAM (Random Access Memory)

RAM (Random Access Memory) adalah sebuah tipe penyimpanan komputer yg isinya dpt diakses dlm waktu yg tetap tidak memperdulikan letak data tersebut dlm memori. Ini berlawanan dgn alat memori urut, seperti tape magnetik, disk & drum, di mana gerakan mekanikal dr media penyimpanan memaksa komputer utk mengakses data secara berurutan.

Istilah2 RAM :
1. Speed
2. Megahertz
3. PC Rating
4. CAS Latency

MENGENAL BAGIAN KOMPONEN2 RAM
1. PCB (Printed Circuit Board)
2. Contact Point
3. DRAM (Dynamic Random Access Memory)
4. Chip Packaging
5. DIP (Dual In-Line Package)
6. TSOP (Thin Small Outline Package)
7. CSP (Chip Scale Package)

Sejarah perkembangan RAM

1. RAM
RAM ditemukan oleh Robert Dennard dan diproduksi secara besar – besaran oleh Intel pada tahun 1968, jauh sebelum PC ditemukan oleh IBM pd thn 1981. Dari sinilah perkembangan RAM bermula. Pada awal diciptakannya, RAM membutuhkan tegangan 5.0 volt untuk dapat berjalan pada frekuensi 4,77MHz, dengan waktu akses memori (access time) sekitar 200ns (1ns = 10-9 detik).

2. DRAM

Pd tahun 1970, IBM menciptakan sebuah memori yg dinamakan DRAM. DRAM mempunyai frekuensi kerja yg bervariasi antara 4,77MHz hingga 40MHz.

3. FP RAM

Fast Page Mode DRAM atau disingkat dengan FPM DRAM ditemukan sekitar tahun 1987. Memori jenis ini langsung mendominasi pemasaran memori, dan orang sering kali menyebut memori jenis ini “DRAM” saja, tanpa menyebut nama FPM. Memori jenis ini bekerja layaknya sebuah indeks atau daftar isi. Arti Page itu sendiri merupakan bagian dari memori yg terdapat pada sebuah row address. 

4. EDO RAM
Pada tahun 1995, diciptakanlah memori jenis (EDO DRAM) yg merupakan penyempurnaan dari FPM. Memori EDO dpt mempersingkat read cycle-nya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya sekitar 20 persen. EDO mempunyai access time yang cukup bervariasi, yaitu sekitar 70ns hingga 50ns dan bekerja pada frekuensi 33MHz hingga 75MHz. Walaupun EDO merupakan penyempurnaan dari FPM, namun keduanya tidak dapat dipasang secara bersamaan, karena adanya perbedaan kemampuan.

5. SDRAM PC66

Pada peralihan tahun 1996 – 1997, Kingston menciptakan sebuah modul memori dimana dapat bekerja pada kecepatan (frekuensi) bus yang sama / sinkron dengan frekuensi yang bekerja pada prosessor. Itulah sebabnya mengapa Kingston menamakan memori jenis ini sebagai Synchronous Dynamic Random Access Memory (SDRAM). SDRAM ini kemudian lebih dikenal sebagai PC66 karena bekerja pada frekuensi bus 66MHz. Berbeda dengan jenis memori sebelumnya yang membutuhkan tegangan kerja yang lumayan tinggi, SDRAM hanya membutuhkan tegangan sebesar 3,3 volt dan mempunyai access time sebesar 10ns.

6. SDRAM PC100

Selang kurun waktu setahun setelah PC66 diproduksi dan digunakan secara masal, Intel membuat standar baru jenis memori yang merupakan pengembangan dari memori PC66. Standar baru ini diciptakan oleh Intel untuk mengimbangi sistem chipset i440BX dengan sistem Slot 1 yang juga diciptakan Intel. Chipset ini didesain untuk dapat bekerja pada frekuensi bus sebesar 100MHz. Chipset ini sekaligus dikembangkan oleh Intel untuk dipasangkan dengan prosessor terbaru Intel Pentium II yang bekerja pada bus 100MHz. Karena bus sistem bekerja pada frekuensi 100MHz sementara Intel tetap menginginkan untuk menggunakan sistem memori SDRAM, maka dikembangkanlah memori SDRAM yang dapat bekerja pada frekuensi bus 100MHz. Seperti pendahulunya PC66, memori SDRAM ini kemudian dikenal dengan sebutan PC100.

7. DR DRAM

Pada tahun 1999, Rambus menciptakan sebuah sistem memori dengan arsitektur baru dan revolusioner, berbeda sama sekali dengan arsitektur memori SDRAM.Oleh Rambus, memori ini dinamakan Direct Rambus Dynamic Random Access Memory. Dengan hanya menggunakan tegangan sebesar 2,5 volt, RDRAM yang bekerja pada sistem bus 800MHz melalui sistem bus yang disebut dengan Direct Rambus Channel, mampu mengalirkan data sebesar 1,6GB/detiknya! (1GB = 1000MB). 

8. RDRAM PC800

Rambus juga mengembangkan sebuah jenis memori lainnya dgn kemampuan yang sama dengan DRDRAM. Perbedaannya hanya terletak pada tegangan kerja yang dibutuhkan. Jika DRDRAM membutuhkan tegangan sebesar 2,5 volt, maka RDRAM PC800 bekerja pada tegangan 3,3 volt. Nasib memori RDRAM ini hampir sama dengan DRDRAM, kurang diminati, jika tidak dimanfaatkan oleh Intel.
Intel yang telah berhasil menciptakan sebuah prosessor berkecepatan sangat tinggi membutuhkan sebuah sistem memori yang mampu mengimbanginya & bekerja sama dengan baik. Memori jenis SDRAM sudah tidak sepadan lagi. Intel membutuhkan yang lebih dari itu. 

9. SDRAM PC133

Selain dikembangkannya memori RDRAM PC800 pada tahun 1999, memori SDRAM belumlah ditinggalkan begitu saja, bahkan oleh Viking, malah semakin ditingkatkan kemampuannya. Sesuai dengan namanya, memori SDRAM PC133 ini bekerja pada bus berfrekuensi 133MHz dengan access time sebesar 7,5ns dan mampu mengalirkan data sebesar 1,06GB per detiknya. Walaupun PC133 dikembangkan untuk bekerja pada frekuensi bus 133MHz, namun memori ini juga mampu berjalan pada frekuensi bus 100MHz walaupun tdk sebaik kemampuan yang dimiliki oleh PC100 pada frekuensi tersebut.

10. SDRAM PC150

Perkembangan memori SDRAM semakin menjadi – jadi setelah Mushkin, pada tahun 2000 berhasil mengembangkan chip memori yang mampu bekerja pada frekuensi bus 150MHz, walaupun sebenarnya belum ada standar resmi mengenai frekunsi bus sistem atau chipset sebesar ini. Masih dengan tegangan kerja sebesar 3,3 volt, memori PC150 mempunyai access time sebesar 7ns dan mampu mengalirkan data sebesar 1,28GB per detiknya.
Memori ini sengaja diciptakan untuk keperluan overclocker, namun pengguna aplikasi game dan grafis 3 dimensi, desktop publishing, serta komputer server dapat mengambil keuntungan dengan adanya memori PC150.

11. DDR SDRAM

Masih di tahun 2000, Crucial berhasil mengembangkan kemampuan memori SDRAM menjadi dua kali lipat. Jika pd SDRAM biasa hanya mampu menjalankan instruksi sekali setiap satu clock cycle frekuensi bus, maka DDR SDRAM mampu menjalankan dua instruksi dalam waktu yang sama. Teknik yang digunakan adalah dengan menggunakan secara penuh satu gelombang frekuensi. Jika pada SDRAM biasa hanya melakukan instruksi pada gelombang positif saja, maka DDR SDRAM menjalankan instruksi baik pada gelombang positif maupun gelombang negatif. Oleh karena dari itu memori ini dinamakan DDR SDRAM yang merupakan kependekan dari Double Data Rate Synchronous Dynamic Random Access Memory.

12. DDR RAM

Pada 1999 dua perusahaan besar microprocessor INTEL dan AMD bersaing ketat dalam meningkatkan kecepatan clock pada CPU. Namun menemui hambatan, karena ketika meningkatkan memory bus ke 133 Mhz kebutuhan Memory (RAM) akan lebih besar. Dan untuk menyelesaikan masalah ini maka dibuatlah DDR RAM(double data rate transfer) yang awalnya dipakai pada kartu grafis, karena sekarang anda bisa menggunakan hanya 32 MB untuk mendapatkan kemampuan 64 MB. AMD adalah perusahaan pertama yang menggunakan DDR RAM pada motherboardnya.

13. DDR2 RAM

Ketika memori jenis DDR (Double Data Rate) dirasakan mulai melambat dengan semakin cepatnya kinerja prosesor dan prosesor grafik, kehadiran memori DDR2 merupakan kemajuan logis dalam teknologi memori mengacu pada penambahan kecepatan serta antisipasi semakin lebarnya jalur akses segitiga prosesor, memori, dan antarmuka grafik yg hadir dgn kecepatan komputasi yang berlipat ganda.
Perbedaan pokok antara DDR dan DDR2 adalah pada kecepatan data serta peningkatan latency mencapai dua kali lipat. Perubahan ini memang dimaksudkan untuk menghasilkan kecepatan secara maksimum dalam sebuah lingkungan komputasi yang semakin cepat, baik di sisi prosesor maupun grafik.
Selain itu, kebutuhan voltase DDR2 juga menurun. Kalau pada DDR kebutuhan voltase tercatat 2,5 Volt, pada DDR2 kebutuhan ini hanya mencapai 1,8 Volt. 

14. DDR3 RAM

RAM DDR3 ini memiliki kebutuhan daya yang berkurang sekitar 16% dibandingkan dengan DDR2. Hal tersebut disebabkan karena DDR3 sudah menggunakan teknologi 90 nm sehingga konsumsi daya yang diperlukan hanya 1.5v, lebih sedikit jika dibandingkan dengan DDR2 1.8v dan DDR 2.5v. Secara teori, kecepatan yang dimiliki oleh RAM ini memang cukup memukau. Ia mampu mentransfer data dengan clock efektif sebesar 800-1600 MHz. Pada clock 400-800 MHz, jauh lebih tinggi dibandingkan DDR2 sebesar 400-1066 MHz (200- 533 MHz) dan DDR sebesar 200-600 MHz (100-300 MHz). Prototipe dari DDR3 yang memiliki 240 pin.

EVOLUSI MODUL
1. SIMM
2. DIMM
3. SODIMM
4. RIMM / SORIMM


Gambar Tabel Jenis-Jenis Ram

Gambar Perbedaan Pin Pada RAM
1. Speed
Speed atau kecepatan, makin menjadi faktor penting dalam pemilihan sebuah modul memory. Bertambah cepatnya CPU, ditambah dengan pengembangan digunakannya dual-core, membuat RAM harus memiliki kemampuan yang lebih cepat untuk dapat melayani CPU.
Ada beberapa paramater penting yang akan berpengaruh dengan kecepatan sebuah memory.

2. Megahertz
Penggunaan istilah ini, dimulai pada jaman kejayaan SDRAM. Kecepatan memory, mulai dinyatakan dalam megahertz (MHz). Dan masih tetap digunakan, bahkan sampai pada DDR2.
Perhitungan berdasarkan selang waktu (periode) yang dibutuhkan antara setiap clock cycle. Biasanya dalam orde waktu nanosecond. Seperti contoh pada memory dengan aktual clock speed 133 MHz, akan membutuhkan access time 8ns untuk 1 clock cycle.

Kemudian keberadaan SDRAM tergeser dengan DDR (Double Data Rate). Dengan pengembangan utama pada kemampuan mengirimkan data dua kali lebih banyak. DDR mengirimkan data dua kali dalam satu clock cycle.

Kebanyakan produk mulai menggunakan clock speed efektif, hasil perkalian dua kali data yang dikirim. Ini sebetulnya lebih tepat jika disebut sebagai DDR Rating.

Hal yang sama juga terjadi untuk DDR2. Merupakan hasil pengembangan dari DDR. Dengan kelebihan utama pada rendahnya tegangan catudaya yang mengurangi panas saat beroperasi. Juga kapasitas memory chip DDR2 yang meningkat drastis, memungkinkan sebuah keping DDR2 memiliki kapasitas hingga 2 GB. DDR2 juga mengalami peningkatan kecepatan dibanding DDR.

3. PC Rating
Pada modul DDR, sering ditemukan istilah misalnya PC3200. Untuk modul DDR2, PC2-3200. Dari mana angka ini muncul?

Biasa dikenal dengan PC Rating untuk modul DDR dan DDR2. Sebagai contoh kali ini adalah sebuah modul DDR dengan clock speed 200 MHz. Atau untuk DDR Rating disebut DDR400. Dengan bus width 64-bit, maka data yang mampu ditransfer adalah 25.600 megabit per second (=400 MHz x 64-bit). Dengan 1 byte = 8-bit, maka dibulatkan menjadi 3.200MBps (Mebabyte per second). Angka throughput inilah yang dijadikan nilai dari PC Rating. Tambahan angka “2”, baik pada PC Rating maupu DDR Rating, hanya untuk membedakan antara DDR dan DDR2.

4. CAS Latency
Akronim CAS berasal dari singkatan column addres strobe atau column address select. Arti keduanya sama, yaitu lokasi spesifik dari sebuah data array pada modul DRAM.

CAS Latency, atau juga sering dising- kat dengan CL, adalah jumlah waktu yang dibutuhkan (dalam satuan clock cycle) selama delay waktu antara data request dikirimkan ke memory controller untuk proses read, sampai memory modul berhasil mengeluarkan data output. Semakin rendah spesifikasi CL yang dimiliki sebuah modul RAM, dengan clock speed yang sama, akan menghasilkan akses memory yang lebih cepat.

Senin, 24 September 2012

PRINSIP KERJA UPS



Setiap PC membutuhkan daya listrik. Kalau aliran listrik (main power) terputus, PC akan mati (tidak berfungsi). Fungsi dasar UPS (Uninterruptible Power Supply) adalah menyediakan suplai listrik SEMENTARA ke beban (PC) tanpa terputus pada saat main power nya tidak bekerja agar seluruh proses dapat dihentikan dengan benar, seluruh data dapat disimpan dengan aman, dan komputer dapat dimatikan dengan benar. Jadi fungsi UPS itu BUKAN agar user tetap dapat bekerja.

UPS memiliki dua sumber daya listrik : Primary Power Source dan Secondary Power Source. Salah satunya berasal dari main power (stop kontak / PLN), satunya dari baterai UPS. Di dalam UPS terdapat Switch yang mengatur sumber daya listrik mana yang digunakan untuk menyediakan suplai listrik ke beban (PC). Jika Primary Power Source tidak berfungsi, Switch akan mengaktifkan Secondary Power Source secara otomatis. Begitu juga sebaliknya jika Primary Power Source sudah kembali berfungsi.

PSU komputer membutuhkan arus listrik AC, sedangkan arus listrik dari baterai adalah DC. Oleh karena itu, di dalam UPS terdapat Inverter yang mengubah arus DC dari baterai menjadi arus AC. Di dalam UPS juga terdapat Rectifier yang mengubah arus AC dari main power menjadi arus DC untuk mengisi baterai pada saat main power bekerja.
Gambar 1 : Diagram paling simpel dari UPS

Udah pake UPS pas listrik mati kok PC tetep restart? Jangankan pas PLN mati, pas PLN hidup aja PC bisa restart sendiri.

Ada beberapa jenis gangguan suplai daya listrik ke PC antara lain :

1. Noise
Ini kalo tegangan (voltase) naik/turun tapi cuma sedikit (persentasenya kecil). Kalo standar 220 volt, sekitar 200 - 240 volt itu masih bisa dianggap noise. Kalopun selisih banyak, biasanya bertahap (gak langsung drop banget atopun tinggi banget). Noise yang macem begini biasa diatasi pake AVR. Tapi ya itu, AVR pun ada kelasnya. Ada yang cuma model sirkuit harga 50 ribuan, ada yang servo-motor harga 200 ribuan, ada yang ferro-resonant harga 700 ribuan (untuk 500VA semua loh). Ada harga ada rupa lah. PSU yang bagus juga biasanya sanggup ngatasi masalah Noise walopun gak pake AVR di luar PC.



Gambar 2 : Sinyal AC yang terganggu oleh Noise

2. Blackout
Ini kalo main power (PLN) tidak bekerja. Fungsi dasar UPS untuk mengatasi Blackout. Kalo mau ngetes fungsi UPS yang paling dasar ini ya cabut aja kabel power UPS nya dari stop kontak pas komputernya nyala. Tinggal diliat komputernya mati/restart gak.

3. Brownout / Sag
Ini kalo tegangan (voltase) dari main power turun (drop) dan naik lagi (kembali) dalam waktu yang sangat cepat. Dropnya bisa nyampe separo dari yang seharusnya, dan waktunya hanya sepersekian detik. Kita kadang bisa mendeteksi adanya Brownout ini ketika lampu di ruangan seperti berkedip.

Penyebab Brownout pada umumnya adalah karena ada tambahan beban berat (heavy load) di jaringan listrik, misalnya ada yang nyalain mesin las listrik atau mesin produksi kapasitas besar. Tambahan bebannya itu gak harus di rumah / kantor kita lho, bisa aja tetangga kita yang nyalain mesin trus pengaruh ke listrik kita lewat jaringan PLN.

Brownout ini lebih berpotensi menimbulkan masalah dibanding Blackout. UPS murahan belum tentu bisa ngatasi masalah Brownout ini. Yang harus diingat, kemampuan UPS untuk mengatasi Brownout ini TIDAK BISA dites dengan cara memutus main power ke UPS & menyambungnya kembali walaupun dalam waktu yang sangat singkat. Dulu UPS yang kualitasnya kurang bagus saya colokin ke stavolt, komputernya dinyalain, trus power switch dari stavoltnya di-off & on-kan secepat mungkin, komputer gak mati / restart. Tapi pas lampu di ruangan kedip, komputernya tetep restart juga.

4. Surge & Spike
Kebalikan dari Brownout / Sag, ini kalo tegangan (voltase) dari main power melonjak dan turun lagi (kembali) dalam waktu yang sangat cepat. Naiknya bisa nyampe puluhan kali dari yang seharusnya, dan waktunya hanya sepersekian detik. Jadi kalo tegangan normal listrik kita 220 volt, surge ini bisa bikin jadi 2000 volt atau bahkan 10000 volt.

Penyebab Surge pada umumnya adalah karena ada berhentinya beban berat (heavy load) di jaringan listrik, misalnya pas mesin las listrik atau mesin produksi kapasitas besar dimatiin. Surge juga bisa terjadi ketika main power kembali nyala setelah terjadinya Blackout.

Istilah Spike lebih sering dipake untuk lonjakan tegangan akibat petir (lightning strikes). UPS berkualitas tinggi biasanya juga dilengkapi dengan Surge Protector.

JENIS - JENIS UPS

Pada dasarnya, UPS cuma ada 2 jenis, yaitu OFFLINE dan ONLINE. Perbedaannya adalah pada sumber daya listrik mana yang jadi Primary Power Source, mana yang jadi Secondary Power Source.

Pada UPS jenis OFFLINE, sumber listrik primer adalah stop kontak / PLN, sumber listrik sekunder adalah inverter (dari baterai). Beberapa yang termasuk istilah lain ataupun varian dari OFFLINE UPS ini antara lain : Standby UPS, Ferroresonant-Standby UPS, Line-Interactive UPS, Voltage & Frequency Dependent (VFD) UPS, Voltage Independent (VI) UPS.

Karakteristik penting yang ada pada Offline UPS adalah adanya Switch Time atau Transfer Time, yaitu waktu yang diperlukan oleh Switch untuk pindah dari sumber listrik primer ke sumber listrik sekunder pada saat sumber listrik primer dianggap gagal berfungsi, sehingga ada jeda waktu dimana beban tidak mendapat listrik.



Gambar 3 : Offline UPS
Garis putus - putus menunjukkan sumber listrik sekunder


Offline UPS generasi sekarang biasanya memiliki Transfer Time kurang dari 4 milidetik (4 ms). Cukupkah Transfer Time segitu? Tergantung PSU nya. Di PSU ada spesifikasi Hold Time atau Holdup Time yang menunjukkan berapa lama PSU masih bekerja sebelum benar - benar mati jika aliran listrik terputus.

Penjelasan soal Hold Time atau Holdup Time bisa dilihat di threadnya Bung Khurios2000 yang udah di-sticky. Yang penting Transfer Time nya UPS harus lebih kecil daripada Hold Time nya PSU. Adanya Transfer Time membuat sebagian orang tidak menganggap Offline UPS sebagai UPS karena tidak benar - benar "uninterruptible".

Sepanjang pengalaman saya, Transfer Time 4 ms biasanya cukup untuk PSU abal-abal sekalipun. Cara membuktikannya ya sama dengan cara membuktikan kemampuan UPS mengatasi Blackout seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Pada UPS jenis ONLINE, sumber listrik primer adalah inverter (dari baterai). Inverter bekerja terus - menerus menyediakan listrik dari baterai untuk beban (PC), sedangkan rectifier dari AC ke DC bekerja terus - menerus untuk mengisi baterai. Itu sebabnya juga disebut DOUBLE CONVERSION UPS atau DOUBLE CONVERSION ONLINE UPS. Kalau main power tidak berfungsi, hanya rectifier dari AC ke DC yang berhenti bekerja, sedangkan kerja inverter tidak berubah (tidak ada Transfer Time / Switch Time). UPS jenis ini juga disebut Voltage & Frequency Independent (VFI) UPS karena tegangan dan frekuensi outputnya tidak dipengaruhi oleh input.

Pada Online UPS juga terdapat Switch yang otomatis mengambil aliran listrik dari sumber listrik sekunder (langsung dari PLN) jika inverter / baterai tidak bekerja. Biasanya Switch ini juga bisa difungsikan secara manual (manual bypass) untuk maintenance baterai. Tidak adanya Transfer Time / Switch Time membuat sebagian orang menyebut Online UPS sebagai "True UPS".



Gambar 4 : Online UPS
Garis putus - putus menunjukkan sumber listrik sekunder



SPESIFIKASI UPS

Kalo milih UPS, ada spesifikasi yang bisa dibaca di box / manual / website nya. Di sini cuma dibahas beberapa spesifikasi yang penting untuk diperhatikan.

1. UPS Type / Topology
Jenis UPS ini yang paling penting. Intinya: ONLINE atau OFFLINE? Biasanya, kualitas inverter di Online UPS secara umum lebih baik daripada di Offline UPS. Hal ini karena diasumsikan inverter di Offline UPS hanya berfungsi kadang - kadang dan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi kalo kualitasnya gak persis ama listrik PLN ya dianggap gak terlalu berisiko merusak PC. Beda dengan Online UPS yang inverternya bekerja terus - menerus, jadi kualitas outputnya harus bener - bener bagus.

2. Load Rating (Capacity & Run Time)
Kapasitas UPS tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Mau dipake berapa PC? Total daya berapa Watt? Yang harus diingat, kapasitas UPS (juga perhitungan beban) ini bisa dinyatakan sebagai Apparent Power, bisa juga sebagai True Power.

True Power = Power Factor x Apparent Power

Biasanya Apparent Power dinyatakan dalam satuan VA (Volt-Ampere), sedangkan True Power biasa dinyatakan dalam satuan Watt. Jadi ada UPS yang nulis spec Maximum Load-nya 600VA (480 Watt). Artinya Apparent Power = 600VA, True Power = 480Watt, Power Factor = 0,8. Kalo di spec UPS cuma ada Apparent Power (pake satuan VA), untuk amannya ambil Power Factor (faktor daya) = 0,6.

UPS yang bagus biasanya dia punya tabel / gambar Run Time seperti ini.


Tabel 1 : Run Time Chart

Artinya, kalo PLN mati pas baterai UPS nya penuh (100%), trus dipasang beban 600VA, UPS bisa menyediakan listrik selama 5,8 menit. Kalo bebannya 300VA, bisa nyala 14 menit. Yang pasti UPS gak akan bisa menyediakan listrik di atas beban maksimumnya. Kalo dari tabel di atas, bukan berarti UPS itu bisa nyala 3 menitan kalo bebannya 800VA, tapi malah gak nyala samasekali.
Sebagian UPS mungkin gak menyediakan Run Time Chart seperti itu, tapi menyebutkan Typical Run Time at Full Load dan Typical Run Time at Half Load.

3. Output Voltage & Frequency

Udah tau khan? Yang pasti harus sama dengan standar tegangan listrik untuk PC (di kita 220 volt, 50 Hz).

4. Electrical Waveform Output
Nah, ini yang sering kurang diperhatikan. Bentuk gelombang yang ideal untuk arus bolak - balik (AC) adalah Sinusoidal (Sinewave). Bentuk gelombang yang paling jelek adalah Squarewave. Tapi sampai saat ini belum ada Inverter murah yang bisa menghasilkan Sinewave Output.

Untuk menekan harga UPS biasanya pada Offline UPS digunakan Inverter yang menghasilkan Modified Squarewave. Bentuk gelombangnya dibuat mendekati (mirip) Sinewave. Ada yang menyebutnya "Stepped approximation to a sinewave", "Pulse-width modified squarewave", "Modified stepwave", atau "Modified sinewave".



Gambar 5 : Electrical Waveform Type


Sekali lagi, karena diasumsikan inverter di Offline UPS hanya berfungsi kadang - kadang dan dalam waktu yang relatif singkat, bentuk gelombang yang bukan sinusoidal itu dianggap cukup aman untuk PC.

Cara gampang untuk ngetes bentuk gelombang output UPS adalah pasang lampu TL di UPS, trus cabut kabel power UPS nya dari stop kontak. Kalo lampunya kedip - kedip atau berdengung, itu tanda bentuk gelombangnya bukan sinusoidal. Tapi itu tergantung kualitas ballast & lampunya juga sih. Kalo mau pasti ya dites pake alat yang namanya oscilloscope.

Untuk ONLINE UPS udah hampir pasti menghasilkan bentuk gelombang sinusoidal karena Inverternya bekerja terus menerus. Karena itu harga ONLINE UPS gak ada yang murah.

Btw saya belum pernah tau ada Offline UPS yang outputnya True Sinewave yang harganya di bawah Rp 2 juta (kurs Rp 9000/US$), bahkan untuk kapasitas cuma 500-750VA.

5. Transfer Time
Yang ini udah disinggung di atas tadi, cuma ada di Offline UPS. Yang penting angkanya lebih kecil daripada Hold Time nya PSU yang dipake.

6. Power Conditioning
Ini adalah kemampuan UPS untuk "memuluskan" aliran listrik dari main power sebelum diteruskan ke beban (PC). Ini terutama untuk OFFLINE UPS. Yang paling mendasar adalah Voltage Regulation (untuk mengatasi noise). Hampir semua Offline UPS sekarang udah built-in AVR (Automatic Voltage Regulator). Tapi ya seperti yang sudah disebutkan di atas, AVR yang ada di dalam UPS juga macem - macem kelasnya. UPS yang bagus biasanya bisa diatur tingkat sensitivitas dari AVR nya.

Fitur berikutnya yang ditambahkan biasanya adalah Surge Suppression (untuk mengatasi surge / spike).

Untuk ONLINE UPS, kualitas output samasekali lepas dari kualitas input (dalam kondisi beroperasi normal). Jadi untuk Online UPS, fitur Power Conditioning gak terlalu penting kecuali kalo di-bypass (gak pake baterai). Yang lebih penting adalah Output Voltage Regulation, karena kualitas keluaran baterai bisa berubah sesuai umur baterai.


Perlu diingat, sebagian besar penyebab masalah (hardware) pada komputer berhubungan dengan aliran listrik. Jadi, kalo mau bandingin UPS, yang penting bukan pertanyaan "UPS Anda bisa nyala berapa menit?"
Karena mau nyala berapa menit pake berapa komputer itu bisa dihitung (UPS sizing). Walopun kadang spec UPS ada yang bo'ong juga sih.

Yang penting adalah pertanyaan "Apakah UPS Anda sudah pernah gagal ?" (dalam arti komputer tetep mati / restart) ditambah pertanyaan :
- "Seberapa parah aliran listrik di tempat Anda?"
- "Berapa jam UPS & komputer Anda nyala setiap hari?"
- "Seberapa sering alarm UPS Anda bunyi?"
- "Udah berapa lama UPS itu Anda pake?"
dan yang gak kalah penting : "Komputer Anda pake PSU apa?"

Gak aneh kalo si A bilang dia pake UPS anu tapi komputer tetep mati / restart pas PLN mati, sedangkan si B pake UPS yang sama tapi gak merasa ada masalah. Yang bikin beda adalah kualitas aliran listrik di masing - masing lokasi.
Sebagai gambaran, kualitas listrik PLN di kantor Anda biasanya termasuk paling baik kalau kantor Anda ada di daerah perkotaan, pakai trafo sendiri (tiga fasa, daya terpasang di atas 200 KVA). Sedikit di bawahnya adalah yang tiga fasa tapi trafonya dipake rame - rame (daya terpasang 23 - 200 KVA). Di bawahnya lagi adalah yang instalasi PLN nya satu fasa (daya terpasang di bawah 23 KVA) tapi masih di daerah perkotaan. Yang paling parah kalo rumah Anda jauh dari kota, jauh dari jaringan tiga fasanya PLN. Masih mending kalo rumah Anda yang pertama narik kabel dari trafo satu fasanya (paling dekat ke trafo satu fasa).

Agak susah diprediksi kalo kantor Anda pake genset terus. Walopun kualitas aliran listrik dari PLN di negara kita belum terjamin, tapi masih ada standarnya lah. Pake genset sendiri lebih berpotensi menimbulkan masalah.

Sekedar sharing, kantor saya (toko retail) 12 jam kerja pake genset terus. Genset rakitan, seken pula (100 KVA). Walhasil banyak gangguannya seperti tegangan & frekuensi naik-turun. Komputer jadi sering mati / restart. Padahal semua udah pake Offline UPS yang untuk ukuran orang semarang termasuk "bermerk" dan "mahal" (600VA harga 900 ribuan). Yang paling gampang dilihat kalo pas pindah dari PLN ke genset atau sebaliknya, hampir pasti restart. Sama juga kalo pas lampu di ruangan keliatan kedip.

Mulai deh, PSU pada jebol (emang sih PSU abal - abal semua), harddisk gak kedetect, motherboard juga rusak. Awalnya saya kira kapasitas UPS kurang, jadi coba ganti yg kapasitas lebih gede (merk & tipe sama), ternyata gak ngaruh. Coba tipe lain, merk lain (yang setara), masih sama saja. Ditambah servo-motor AVR (abal - abal) juga sami mawon.

Akhirnya coba "merk internasional" yang "direkomendasikan", sampe sekarang udah lebih dari 2 tahun belum pernah bikin komputer restart apalagi mati kalo pas ada gangguan listrik. UPS nya masih yang jenis OFFLINE lho, juga outputnya masih "Stepped approximation to a sinewave". Harganya sekarang malah cuma 700 ribuan untuk 500VA. Kebetulan juga udah beberapa bulan ini kantor saya pake PLN terus, gensetnya standby ajah.

Peranan PSU jelas penting, karena arus listrik ke komponen - komponen PC itu diatur oleh PSU. Kesimpulannya, kalo mau ngetes kualitas UPS, cobalah di tempat yang kualitas jaringan listriknya paling jelek (biasanya di kampung / permukiman yang jauh dari pusat kota), pake PSU abal - abal yang paling murah. Baru ntar ketauan kualitas UPS nya.


Menurut standar BS EN 62040-3:2001 ada tiga jenis UPS utama (istilah yg standar) :

1. VFI (Voltage and Frequency Independent)

Disebut demikian karena tegangan dan frekuensi output tidak dipengaruhi oleh tegangan dan frekuensi input. Ini yg biasa dikenal dengan nama Online UPS atau Double Conversion UPS.

2. VFD (Voltage and Frequency Dependent)
Disebut demikian karena tegangan dan frekuensi output dipengaruhi oleh (sama dengan) tegangan dan frekuensi input. Ini yg biasa dikenal dengan nama Standby UPS atau Offline UPS. Skema seperti gambar 3 diatas tapi tanpa filter.

3. VI (Voltage Independent)
Disebut demikian karena disertai filter/stabilizer/AVR sehingga tegangan output distabilkan, sedangkan frkuensi output nya tetap mengikuti frekuensi input. Menurut beberapa website UPS, ini yang disebut juga UPS Line-Interactive. Skemanya seperti gambar 3 diatas.

Sedangkan menurut website APC dan PC Guide, disebut UPS Line-Interactive bila dalam UPS tersebut konverternya hanya ada satu, sekaligus berfungsi sebagai Rectifier (AC-DC) dan juga Inverter (DC-AC). Skemanya seperti gambar dibawah ini.



Gambar 6 : Line-Interactive UPS (dengan single konverter menurut beberapa sumber)
Garis putus - putus menunjukkan sumber listrik sekunder

Adapun Ferroresonant-Standby UPS adalah Standby UPS yg transfer switch dan filter/stabilizer/AVR nya digantikan oleh sebuah ferroresonant transformer. Keuntungannya adalah Transfer Time yang lebih singkat (bisa diasumsikan 0 milidetik), karena bila arus listrik dari Primary Power Source putus tiba2, energi yg tersimpan di medan magnetik transformer tetap mensuplai listrik output sampai Secondary Power Source nya bekerja.



Gambar 7 : Ferroresonant-Standby UPS
Garis putus - putus menunjukkan sumber listrik sekunder

Saya berpendapat, Line-Interactive maupun Ferroresonant Standby UPS itu semua hanya varian dari Standby / Offline UPS, karena secara prinsip Primary Power Source nya adalah utility power (PLN). Tapi tentu saja penambahan fitur akan memperbaiki kinerja (kehandalan) UPS.